Disaat saya akan memulai posting di-blog ini, saya berfikir, "Apa yang akan saya tuangkan ya?". Lalu, tiba-tiba terbesit "Good to Great", karena beberapa hari ini tagline tersebut terngiang-ngiang di fikiran saya. Terlebih lagi di saat pertemuan perkuliahan di semester ini, hampir beberapa "introduction" mata kuliah yang dipaparkan berkaitan dengan apa yang diuraikan dalam konsep "Good to Great". Oleh karena itu, saya menamakan blog ini "zONEurEKA" yang merupakan gabungan dari dua kata, yaitu "zone" dan "Eureka", yang berarti sebagai tempat dimana saya telah menemukan sesuatu (bisa berupa sesuatu yang baru maupun pengalaman atau memory akan sesuatu hal yang saya alami).
"Good to Great" sebuah tagline yang saya kenal sekitar 2 tahun yang lalu. Tepatnya adalah dari sebuah "company presentation" dari seorang COO baru di perusahaan tempat saya bekerja. Di dalam presentasinya, COO tersebut memperkenalkan "6 Step to Greatness" yang bersumber dari buku karangan James C. Collins yang dipublikasikan pada tahun 2001. Dimana "6 Steps to Greatness" itu meliputi:
1. Level 5 Leadership
Apa itu Level 5 Leadership? Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar Hierarki Tingkat 5 berikut ini.
Yang dimaksud "Level 5 Leadership" disini adalah para pemimpin menyalurkan kebutuhan ego mereka menjauh dari diri mereka sendiri dan diarahkan ke dalam sasaran yang lebih besar guna membangun perusah aan yang hebat. Hal ini bukan berarti Pemimpin Tingkat 5 tidak mempunyai ego atau minat pribadi, mereka ambisius sangat luar biasa, tetapi ambisi mereka pertama dan paling penting adalah untuk perusahaan, bukan untuk mereka sendiri.
Pada "Level 5 Leadership" ini menekankan pola "Windows vs Mirrors". Apa yang dimaksud dengan pola "Windows vs Mirrors"?Pastilah, Anda langsung mengajukan pertanyaan ini, begitu pula COO baru tersebut dalam company presentation-nya kepada kami di dalam meeting room. Pemimpin Tingkat 5 akan melihat keluar jendela untuk membagi pujian kepada faktor-faktor atau pihak lain di luar dirinya sendiri ketika terjadi kesuksesan (bila mereka tidak menemukan orang atau peristiwa tertentu untuk dipuji, maka mereka memberikan pujian pada keberuntungan). Begitu pula pada waktu yang sama, Pemimpin Tingkat 5 akan melihat ke dalam cermin untuk membagikan tanggung jawab, tanpa menyalahkan nasib buruk jika terjadi kegagalan.
Dengan kata lain, penjelasan yang lebih sederhana adalah disaat dalam keadaan baik (kesuksesan), Pemimpin Tingkat 5 tidak akan mengatakan "Gue gitu loh !" (melihat ke cermin), dan tidak akan mengatakan "Semua salah loe!" (melihat ke jendela).
Jadi, Level 5 Leadership = KERENDAHAN HATI PRIBADI (sederhana) + TEKAD PROFESIONAL (kemauan keras dan tidak kenal takut).
2. First Who? Then What?
"Ada kalanya saat Anda tidak dapat menunggu seseorang.
Anda harus memutuskan saat ini untuk berada dalam bus atau di luarnya".
-Ken Kesey-
Disaat kita memulai suatu proyek, biasanya langkah awal yang kita lakukan adalah menetapkan arah baru, visi, dan strategi, kemudian menentukan orang yang mampu melakukan dan mengaturnya. Hal tersebut berlawanan dengan konsep "Good to Great".
Bagi pemimpin yang memicu transformasi good to great, hal pertama yang dilakukan adalah tidak membayangkan ke arah mana mengemudikan bus dan kemudian menentukan orang untuk menuju kesana. Akan tetapi, langkah utama yang tepat (bus = organisasi), adalah mencari orang yang tepat untuk disertakan dalam bus (mengeluarkan orang yang tidak tepat dari bus), lalu membayangkan kemana akan mengemudikan bus tersebut. Selanjutnya adalah derajat keteguhan hati yang diperlukan dalam keputusan yang berkaitan manusia untuk membawa organisasi good to great.
Bila kita menempatkan orang yang tepat di bus (the right people), orang yang tepat berada di tempat yang tepat (right people in the right seat on the bus), dan mengeluarkan orang yang tidak tepat di bus, maka kita akan membayangkan bagaimana membawanya ke suatu tempat yang hebat.
Pemimpin good to great memiliki 3 kebenaran sederhana, yaitu:
1). Bila kita memulai dengan "siapa" (who) bukannya dengan "apa" (what), maka kita akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan dunia yang berubah.
2). Bila kita memiliki orang yang tepat di dalam bus, maka sebagian masalah cara memotivasi dan mengelola orang pasti sudah hilang (tanpa perlu melakukan pengawasan yang ketat).
3). Bila kita memiliki orang yang tidak tepat, kita tidak perlu menemukan arah yang tepat, karena kita masih belum memiliki perusahaan yang hebat (visi yang hebat tanpa orang yang hebat maka akan tidak relevan).
Konsep Good to Great menolak pepatah lama yang mengatakan bahwa "manusia adalah aset perusahaan yang paling penting", karena dalam transformasi good to great "manusia bukan aset yang paling penting, melainkan manusia yang tepat adalah aset perusahaan".
Salah satu metodenya adalah dengan menerapkan "Lean Enterprise" (bisa berupa re-strukturisasi organisasi).
Anda penasaran "Step to Greatness" selanjutnya?
Nantikan kelanjutannya ....
--- Experientia docent sapientiam ---








0 komentar:
Posting Komentar