Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

KEPEMIMPINAN & MELAYANI ALA TOYOTOMI HIDEYOSHI

KEPEMIMPINAN ALA TOYOTOMI HIDEYOSHI
Toyotomi Hideyoshi
Mengapa filosofi kepemimpinan adalah suatu komponen penting untuk dimiliki oleh tiap pemimpin? Karena filosofi kepemimpinan merupakan faktor yang mampu menggerakkan seluruh organisasi dalam mencapai tujuannya. Jika pemimpin mampu menanamkan filosofi kepemimpinan dengan baik, maka niscaya organisasinya akan sukses dalam mencapai tujuan.
Salah satu kisah kepemimpinan yang terkenal adalah tentang Toyotomi Hideyoshi, yang merupakan salah satu figur paling penting dalam kepemimpinan Jepang di masa lampau. Ia merupakan daimyo pertama yang memimpin seluruh Jepang, dan seringkali disebut sebagai ‘Napoleon Jepang’ karena Hideyoshi selalu berusaha untuk menggerakkan orang lain dalam mencapai tujuan.
Toyotomi Hideyoshi (2 Februari 1536 – 18 September 1598) adalah pemimpin Jepang mulai dari zaman Sengoku sampai zaman Azuchi Momoyama. Lahir sebagai anak petani di desa Nakamura, provinsi Owari (sebelah barat Prefektur Aichi).
Toyotomi Hideyoshi berhasil menjadi pemimpin pemersatu Jepang setelah menaklukkan klan Gohojo yang merupakan musuh besar terakhir. Hideyoshi berhasil menghentikan perang berkecamuk sejak lama dan menandai berakhirnya periode Sengoku.
Salah satu kisah tentang Kepemimpinan Hideyoshi adalah pada satu waktu Hideyoshi mengkritik mengenai pembangunan benteng Kiyosu, provinsi Owari, yang menghabiskan waktu hingga lebih dari dua puluh hari, padahal provinsi saat itu sedang dalam kondisi perang. Ketika Oda Nobunaga, penguasa provinsi Owari, menanyakan berapa hari Hideyoshi bisa menyelesaikan pembangunan benteng tersebut, ia menjawab “tiga hari“ dengan percaya diri. Alhasil, ia ditunjuk untuk mengambil alih pembangunan benteng tersebut, padahal ia sendiri pada saat itu juga tidak tahu bagaimana menyelesaikan pembangunannya dalam tiga hari.
Secara cerdik, Hideyoshi memutuskan pembangunan benteng sepanjang 200 meter akan dibagi menjadi lima puluh bagian. Setiap bagian terdiri dari empat meter dan dikerjakan oleh satu grup yang berisikan sepuluh orang, yakni tiga tukang kayu, dua tukang plester dan lima tukang batu. Tiap empat/lima kelompok akan dipimpin oleh seorang mandor.
Sehari berlalu, namun pekerjaan tersebut tidak menunjukkan kemajuan sama sekali. Tidak mengherankan, karena para pekerja dibayar oleh pengawas pembangunan benteng sebelumnya, Takayama Ukon, untuk melambatkan pekerjaan mereka, karena ia dengki kepada Hideyoshi yang mengambil alih pekerjaannya.
Hideyoshi kemudian memutuskan untuk menghentikan pekerjaan tersebut sementara, dan justru mengajak para pekerja untuk minum-minum sake sepuasnya dan melepas lelah. Para pekerja sangat bingung, karena mereka sebelumnya tidak pernah mengalami hal ini, dan menyangka Hideyoshi sedang berlelucon. Mereka justru ragu-ragu dan tidak menyentuh cawan sake-nya masing-masing.
Setelah kemudian Hideyoshi memompa motivasi mereka dengan mengutarakan filosofi kepemimpinan, baru kemudian para pekerja bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat. Ditambah lagi, Hideyoshi juga menjanjikan imbalan bagi para pekerja yang bekerja dengan sungguh-sungguh dalam membangun benteng.
Jika benteng direbut dan dibumihanguskan oleh pihak musuh, maka bukan hanya benteng yang ditimpa kemalangan, melainkan pertahanan negeri terancam bakalan runtuh. Kota tentunya akan dilalap api, provinsi akan musnah, bahkan rakyat terancam kehilangan tempat tinggal, anak dan istri serta orang-orang yang dicintainya. Akibatnya, rakyat juga yang akan menjadi celaka. Intinya, Hideyoshi berhasil menanamkan filosofi kepemimpinan bahwa pekerjaan yang mereka lakukan sekarang sangat penting kontribusinya untuk keseluruhan provinsi. Setelah pidato tersebut, para pekerja segera sadar bahwa dengan melambatkan pekerjaan mereka justru menempuh jalan bagi kehancuran mereka sendiri. Sehingga kemudian semangat mereka terbakar kembali dan bekerja tanpa kenal lelah selama 2 hari sisanya.
Beberapa hal yang dapat kita petik dari kisah tersebut, diantaranya:
1. Melalui tekad dan keinginan yang kuat, maka pekerjaan yang awalnya mustahil akan dapat diselesaikan. Tekad dan keinginan yang kuat akan memaksa orang untuk mencari solusi yang terbaik dan bekerja keras dalam mencapai tujuan tersebut. Awalnya, banyak yang pihak meragukan bahwa Hideyoshi akan mampu menyelesaikan benteng sepanjang 200 meter dalam 3 hari saja. Namun, berkat kecerdikannya dalam mencari solusi terbaik, maka tujuan tersebut tercapai.
2. Memotivasi pekerja dengan memberikan reward atas prestasi kerjanya (menyelesaikan pekerjaan tepat waktu). Hideyoshi berusaha untuk menerapkan motivasi ekstrinsik berupa reward dengan membiarkan pekerja bersenang-senang setelah kelelahan bekerja. Hideyoshi juga memastikan bahwa pekerja akan memperoleh imbalan yang sesuai untuk mereka.
3. Hideyoshi mampu menggunakan filosofi kepemimpinan yang sangat mengena pada pekerja. Hideyoshi meminta para pekerja untuk saling bahu membahu dalam membangun benteng semata-mata karena benteng bukanlah hanya sebuah benteng semata. Benteng tersebut bukan hanya berfungsi sebagai pertahanan pasukan yang sedang berperang, melainkan pertahanan bagi seluruh provinsi.



Judul: The Swordless Samurai-Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVI
Penulis: Kitami Masao dan Tim Clark (Editor)



MELAYANI ALA TOYOTOMI HIDEYOSHI

Bagaimana cara melayani dengan sepenuh hati ini? Ada sebuah contoh inspiratif mengenai seorang manusia luar biasa yang telah menerapkan prinsip ini sepanjang hidupnya.
Dia bernama Toyotomi Hideyoshi, seorang pemimpin legendaris Jepang abad ke-16 yang telah menyatukan Jepang dan mengakhiri era perang saudara. Sampai saat ini, lebih dari 400 tahun setelah kematiannya, semua anak sekolah di Jepang mengenal namanya, sementara tak terhitung jumlah biografi, novel, drama, dan film, bahkan video game yang menceritakan kembali kisahnya atau menampilkan karakternya.

Sepenuh hati
Jangan membayangkan bahwa Hideyoshi adalah seorang samurai yang hebat serta keturunan para bangsawan. Dia sama sekali jauh dari kehidupan semacam itu.Dia lahir dari keluarga miskin, tinggi badannya 150 cm, berat 50 kg, bertubuh bungkuk, tidak atletis, tidak berpendidikan, serta berwajah merah dan keriput sehingga dia dijuluki “Monyet” seumur hidupnya.
Namun, Hideyoshi memiliki kemauan sekeras baja, otak setajam silet, semangat yang tak kunjung padam, dan wawasan yang mendalam tentang manusia. Inilah yang membuat dia yang tidak memiliki kemampuan bela diri tersebut berhasil mengungguli para pesaingnya yang berdarah biru untuk kemudian menjadi penguasa seluruh Jepang.
Di mana letak rahasianya? Didalam buku yang berjudul "The Swordless Samurai-Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVI" yang ditulis oleh Kitami Masao dan Tim Clark (Editor), bahwa kunci sukses Hideyoshi dapat disimpulkan dengan satu kalimat kunci: Melayani dengan Sepenuh Hati.
Ada banyak hal yang bisa kita teladani darinya, tetapi satu hal terpenting adalah pengabdian. dia mengatakan, “Orang-orang berdedikasi padaku karena aku juga mendedikasikan diri kepada mereka.” Dedikasi dan pengabdian adalah kata-kata yang sederhana, bahkan terdengar terlalu sederhana, padahal inilah kunci terpenting dalam memelihara loyalitas pelanggan.
Ada banyak cerita yang dapat menunjukkan betapa setianya Hideyoshi, yang memulai kariernya sebagai pembawa sandal-kepada atasannya, Lord Nabunaga, yang selalu memanggilnya dengan sebutan “Monyet”.
Alkisah, pada suatu musim dingin yang membeku, Hideyoshi menunggu Lord Nabunaga di luar rumah kayu tempatnya mengadakan rapat sambil memegangi sandalnya. Hideyoshi merasa sangat kedinginan tetapi dia tidak ingin sandal atasannya menjadi dingin. Karena itu dia mendekap erat sandal tersebut di dadanya untuk menghangatkannya. Lord Nabunaga sendiri begitu terharu menyaksikan pengorbanan yang luar biasa dari bawahannya ini.
Bagaimana Hideyoshi “memilih” caranya untuk hidup? Dia tahu persis bahwa atasannya senantiasa beraktivitas sepanjang waktu. Karena itu dia memilih kamar yang terdekat dengan pintu masuk kastil.Tempat tidurnya terbuat dari tumpukan jerami yang tersebar di lantai tanah, tetapi dengan beristirahat di sana dia bisa terus memantau dan menangkap pergerakan Lord Nabunaga serta merespon keinginannya secara sangat cepat meskipun dia tidak pernah merasakan tidur yang nyenyak sepanjang malam. Dengan cara seperti ini Hideyoshi bukan hanya melayani melainkan juga dapat mengantisipasi segala pernak-pernik kebutuhan atasannya dengan sepenuh hati.
Ketika suatu pagi terjadi kebakaran di kastil dia telah terbangun jauh sebelum tanda bahaya diserukan dan secepat mungkin mempersiapkan kuda untuk atasannya. Maka tatkala sang atasan bergegas akan menyelamatkan diri, dia muncul dengan kudanya yang sudah berpelana dan bisa langsung ditunggangi atasannya.
Bahkan ketika suatu ketika Lord Nabunaga berkemah dalam suatu situasi yang penuh dengan kepungan kabut, setiap malam dia mendengar suara orang yang berkeliling di area perkemahan setiap malam sambil berteriak, “Tetap waspada!”
Saking penasarannya Nobunaga kemudian mencari identitas si penjaga malam dan terhenyak serta begitu terkesan begitu tahu bahwa orang itu tidak lain tidak bukan adalah anak buahnya yang setia: Hideyoshi.
Yang menarik, walaupun orang-orang di sekitarnya sering menganggap remeh pekerjaannya, Hideyoshi melakukannya dengan sepenuh hati dan jiwa. Dia senantiasa berpendapat bahwa tidak ada pekerjaan yang remeh. Bukankah pekerjaan sekecil apa pun adalah mulia bila dilakukan untuk melayani orang lain?



--- Nil sine magno labore vita dedit mortalibus --- 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar